Gali Memori Kolektif Kotabaru, Dr. Fahmi Prihantoro Dorong Pembelajaran Sejarah Berbasis Heritage-Based Inquiry

YOGYAKARTA, TURAH BUDAYA – Rangkaian pemaparan materi dalam Sarasehan Budaya “Dari Tugu ke Kotabaru: Dua Wajah Kota, Satu Ruang Belajar” pada Rabu (14/10/2026) dilanjutkan oleh narasumber kedua, Dr. Fahmi Prihantoro, S.S., M.A. Peneliti dan akademisi Departemen Arkeologi UGM ini menyampaikan materi berfokus pada “Memori Kolektif Kawasan Cagar Budaya Kotabaru: Warisan Budaya Sebagai Sumber Belajar”.

Dr. Fahmi Prihantoro, S.S., M.A

Dr. Fahmi Prihantoro membedah rekam jejak historis pembentukan kawasan Kotabaru (Nieuwe Wijk) yang bermula dari ekspansi ekonomi perkebunan tebu dan pabrik gula di Yogyakarta pasca berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Peningkatan jumlah warga Eropa mendorong Sultan Hamengku Buwono VII menyewakan persil tanah untuk membangun kawasan hunian modern pertama di Yogyakarta. Kotabaru dirancang secara matang menggunakan konsep Garden City (kota taman) buatan Ebenezer Howard, yang memadukan kenyamanan fasilitas perkotaan modern dengan lingkungan hijau nan asri. Ciri utama tata ruang ini terlihat dari pola jalan teratur, keberadaan boulevard, serta ruang terbuka publik seperti central park dan lapangan olahraga.

Lebih jauh, Dr. Fahmi memaparkan bagaimana Kotabaru berkembang menjadi pusat jaringan sosial dan infrastruktur modern. Mulai dari gerakan keagamaan Zending dan Missi yang melahirkan Rumah Sakit Petronella (kini RS Bethesda) dan RS Panti Rapih, tempat ibadah gereja, hingga fasilitas pendidikan terkemuka seperti Algemeene Middelbare School (kini SMAN 3 Yogyakarta), Normaal School (kini SMPN 5 Yogyakarta), serta Europese Lagere School (kini SDN Ungaran).

Memori kolektif Kotabaru semakin kaya ketika memasuki era pendudukan Jepang (1942–1945) hingga masa kemerdekaan. Kotabaru sempat dialihkan fungsinya menjadi tangsi militer Jepang. Puncaknya, pada 7 Oktober 1945, kawasan ini menjadi medan pertempuran heroik Penyerbuan Kotabaru oleh BKR, Polisi Istimewa, dan rakyat Yogyakarta untuk melucuti senjata tentara Jepang. Peristiwa penyerbuan yang memakan korban gugur 21 pahlawan kusuma bangsa tersebut menjadi simbol kuat jiwa nasionalisme masyarakat.

Bahkan pada masa awal kemerdekaan saat ibu kota RI berpindah ke Yogyakarta (1946), Kotabaru memegang peran vital penunjang negara. Gedung SMAN 3 Yogyakarta tercatat menjadi markas Tentara Pelajar sekaligus saksi sejarah lokasi pertemuan pertama pendirian Balai Perguruan Tinggi yang kelak menjadi cikal bakal Universitas Gadjah Mada (UGM). Karakter multikultural dan nasionalisme Kotabaru kian lengkap dengan didirikannya Masjid Syuhada pada tahun 1952 atas inisiatif tokoh Muslim pascakemerdekaan.

Untuk mengolah kekayaan sejarah tersebut menjadi media edukasi yang efektif, Dr. Fahmi memperkenalkan metode pembelajaran Heritage-Based Inquiry (Inkuiri Berbasis Warisan Budaya). Metode ini mendorong siswa melakukan investigasi tiga tahap: pra-kunjungan (membaca peta dan foto lama), kunjungan lapangan (observasi, sketsa, wawancara), serta pasca-kunjungan (verifikasi dan refleksi).

“Kawasan Cagar Budaya Kotabaru bukan sekadar deretan bangunan berarsitektur Indis yang megah, melainkan ruang yang menyimpan memori kolektif bangsa, mulai dari sejarah kolonialisme, perkembangan pendidikan, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Melalui metode Heritage-Based Inquiry, kita mengajak peserta didik untuk aktif menafsirkan bukti-bukti sejarah fisik secara langsung di lapangan, sehingga sejarah tidak lagi dipelajari secara hafalan melainkan dihayati sebagai bagian dari pembentukan karakter,” papar Dr. Fahmi Prihantoro.

Menyambung pentingnya penerapan metode pembelajaran lapangan tersebut, Pandji Saputra, S.Pd., Gr., menggarisbawahi bahwa kawasan heritage Kotabaru maupun Sumbu Filosofis sangat ideal untuk dijadikan sarana belajar mengajar langsung.

“Bagi para pendidik, kawasan seperti Kotabaru ini adalah laboratorium sejarah dan sarana outdoor study yang sangat potensial. Guru tidak harus selalu berkutat di dalam ruang kelas dengan buku teks. Melalui kegiatan pembelajaran berbasis lapangan, kita dapat membawa siswa berinteraksi langsung dengan situs sejarah, mengamati bukti arsitekturalnya, dan merasakan atmosfer historisnya. Langkah ini menjadi kunci penting agar proses melestarikan cagar budaya dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan edukatif bagi generasi muda,” pungkas Pandji.

Melalui pemaparan ini, para peserta sarasehan diajak untuk bergerak dari sekadar mengenal warisan budaya menuju memahami, mencintai, dan berkontribusi nyata dalam melestarikan cagar budaya Yogyakarta.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *