{"id":607,"date":"2026-10-21T12:05:23","date_gmt":"2026-10-21T12:05:23","guid":{"rendered":"https:\/\/turahbudaya.id\/?p=607"},"modified":"2026-10-21T12:34:09","modified_gmt":"2026-10-21T12:34:09","slug":"menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/","title":{"rendered":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>YOGYAKARTA, TURAH BUDAYA<\/strong> \u2013 Komunitas Turah Budaya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar kegiatan Pembinaan Komunitas Sejarah melalui program Sarasehan Budaya bertajuk &#8220;Dari Tugu ke Kotabaru: Dua Wajah Kota, Satu Ruang Belajar&#8221; pada Rabu (14\/10\/2026)<sup><\/sup>. Membuka sesi pemaparan pertama, Dr. Andi Putranto, S.S., M.Sc., akademisi dan ahli arkeologi dari Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), membawakan materi utama bertajuk &#8220;Membaca Kota Yogyakarta melalui Lanskap Kota Bersejarah&#8221;<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"575\" src=\"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1-1024x575.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-617\" srcset=\"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1-1024x575.jpeg 1024w, https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1-300x168.jpeg 300w, https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1-768x431.jpeg 768w, https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1-1536x862.jpeg 1536w, https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.31-1-1.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Dr. Andi Putranto, S.S., M.Sc.<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam presentasinya yang komprehensif, Dr. Andi Putranto membedah pendekatan <em>Historic Urban Landscape<\/em> (HUL) atau Lanskap Kota Bersejarah<sup><\/sup>. Ia menjelaskan bahwa kota tidak boleh dipandang secara sempit sebagai tumpukan bangunan tua yang mati atau terisolasi, melainkan sebagai ruang hidup yang terus diproduksi, mengalami dinamika, dan diwariskan dari generasi ke generasi<sup><\/sup>. Untuk memahami Yogyakarta secara utuh, Dr. Andi mengaitkan kota dengan konsep <em>palimpsest<\/em><sup><\/sup>. <em>Palimpsest<\/em> menggambarkan kota seperti lembaran naskah kuno yang ditulis ulang dari waktu ke waktu, di mana lapisan sejarah baru menimpa dan melengkapi lapisan sebelumnya tanpa benar-benar menghapus jejak masa lalu secara keseluruhan<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr. Andi menguraikan bahwa Yogyakarta memiliki beberapa lapisan sejarah (<em>layers of landscape<\/em>) yang sangat kuat<sup><\/sup>. Lapisan pertama adalah Sumbu Filosofis (<em>The Cosmological Axis of Yogyakarta<\/em>) yang didirikan oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) sejak abad ke-18<sup><\/sup>. Sumbu yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Golong Gilig ini memuat ajaran <em>Sangkan Paraning Dumadi<\/em>, sebuah filosofi kosmologis Jawa mengenai perjalanan spiritual manusia dari asal muasal, menjalani kehidupan, hingga kembali kepada Sang Pencipta<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lapisan berikutnya adalah lapisan kolonial awal abad ke-20 yang diwakili oleh perancangan kawasan Kotabaru<sup><\/sup>. Dr. Andi menegaskan bahwa Sumbu Filosofis dan Kotabaru bukanlah dua objek yang saling menegasikan, melainkan dua struktur ruang berdampingan yang saling melengkapi dalam satu lanskap perkotaan<sup><\/sup>. Sumbu Filosofis mewakili ruang inti kosmologis kebudayaan Jawa tradisional, sementara Kotabaru hadir sebagai ruang hunian modern era kolonial<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guna membaca jejak-jejak sejarah tersebut secara kualitatif, Dr. Andi mendorong penggunaan metode hermeneutika<sup><\/sup>. Melalui pendekatan ini, para pendidik dan masyarakat diajak melakukan dialog antara artefak fisik di lapangan dengan narasi sejarah yang melingkupinya<sup><\/sup>.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Kota bukan sekadar kumpulan bangunan atau lanskap fisik semata. Kota adalah perpaduan antara elemen alam seperti Gunung Merapi dan Laut Selatan, ruang binaan, aktivitas masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang terus dihidupkan. Membaca Sumbu Filosofis dan lanskap kota Yogyakarta berarti membaca dialog berkesinambungan antara sejarah, alam, manusia, dan identitas yang menyatu,&#8221;<\/em> tegas Dr. Andi Putranto<sup><\/sup>.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menanggapi pemaparan mengenai ruang kota sebagai lanskap budaya yang hidup, Pandji Saputra, S.Pd., Gr., selaku salah satu <em>Founder<\/em> sekaligus Bendahara Umum Komunitas Turah Budaya, turut menekankan pentingnya menempatkan Yogyakarta sebagai wadah edukasi terbuka.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Yogyakarta ini pada hakikatnya adalah sebuah living museum dan living site, ruang sejarah yang tidak sekadar dipajang di dalam etalase kaca, melainkan ruang hidup yang terus berinteraksi dengan masyarakatnya setiap hari. Kami di Turah Budaya mengajak seluruh guru, murid, serta para akademisi untuk hadir secara aktif merawat dan memanfaatkan situs-situs bersejarah ini sebagai wahana pembelajaran kontekstual yang nyata,&#8221;<\/em> ungkap Pandji Saputra.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemaparan ini memberikan inspirasi metodologis bagi peserta sarasehan untuk mengajak siswa belajar membaca ruang kota (<em>reading the urban space<\/em>) sebagai dokumen sejarah yang kontekstual dan interaktif di luar kelas<sup><\/sup>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA, TURAH BUDAYA \u2013 Komunitas Turah Budaya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar kegiatan Pembinaan Komunitas Sejarah melalui program Sarasehan Budaya bertajuk &#8220;Dari Tugu ke Kotabaru: Dua Wajah Kota, Satu Ruang Belajar&#8221; pada Rabu (14\/10\/2026). Membuka sesi pemaparan pertama, Dr. Andi Putranto, S.S., M.Sc., akademisi dan ahli arkeologi dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":608,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-607","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-komunitas"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"YOGYAKARTA, TURAH BUDAYA \u2013 Komunitas Turah Budaya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar kegiatan Pembinaan Komunitas Sejarah melalui program Sarasehan Budaya bertajuk &#8220;Dari Tugu ke Kotabaru: Dua Wajah Kota, Satu Ruang Belajar&#8221; pada Rabu (14\/10\/2026). Membuka sesi pemaparan pertama, Dr. Andi Putranto, S.S., M.Sc., akademisi dan ahli arkeologi dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Situs Resmi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-21T12:05:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-21T12:34:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"897\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1d8e6d5666d68547c528ebfe60f30321\"},\"headline\":\"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah\",\"datePublished\":\"2026-10-21T12:05:23+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-21T12:34:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/\"},\"wordCount\":530,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg\",\"articleSection\":[\"Komunitas\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/\",\"name\":\"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-10-21T12:05:23+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-21T12:34:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg\",\"width\":1600,\"height\":897},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/2026\\\/10\\\/21\\\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/\",\"name\":\"Situs Resmi\",\"description\":\"Komunitas Turah Budaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#organization\",\"name\":\"Situs Resmi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/cropped-LOGO-RESMI-TURAH-BUDYA-2025-scaled-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/cropped-LOGO-RESMI-TURAH-BUDYA-2025-scaled-1.png\",\"width\":2560,\"height\":1491,\"caption\":\"Situs Resmi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1d8e6d5666d68547c528ebfe60f30321\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/turahbudaya.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/turahbudaya.id\\\/index.php\\\/author\\\/tursejarah-anaknegeri\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi","og_description":"YOGYAKARTA, TURAH BUDAYA \u2013 Komunitas Turah Budaya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar kegiatan Pembinaan Komunitas Sejarah melalui program Sarasehan Budaya bertajuk &#8220;Dari Tugu ke Kotabaru: Dua Wajah Kota, Satu Ruang Belajar&#8221; pada Rabu (14\/10\/2026). Membuka sesi pemaparan pertama, Dr. Andi Putranto, S.S., M.Sc., akademisi dan ahli arkeologi dari [&hellip;]","og_url":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/","og_site_name":"Situs Resmi","article_published_time":"2026-10-21T12:05:23+00:00","article_modified_time":"2026-10-21T12:34:09+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":897,"url":"http:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/"},"author":{"name":"Admin","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#\/schema\/person\/1d8e6d5666d68547c528ebfe60f30321"},"headline":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah","datePublished":"2026-10-21T12:05:23+00:00","dateModified":"2026-10-21T12:34:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/"},"wordCount":530,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg","articleSection":["Komunitas"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/","url":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/","name":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah - Situs Resmi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg","datePublished":"2026-10-21T12:05:23+00:00","dateModified":"2026-10-21T12:34:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#primaryimage","url":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg","contentUrl":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-17.57.30-1.jpeg","width":1600,"height":897},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/2026\/10\/21\/menguak-jejak-sejarah-tugu-dan-tata-ruang-yogyakarta-melalui-perspektif-arkeologi-lanskap\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/turahbudaya.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bedah Lanskap Kota Bersejarah Yogyakarta, Dr. Andi Putranto Jelaskan Sumbu Filosofis dan Kota sebagai Palimpsest Sejarah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#website","url":"https:\/\/turahbudaya.id\/","name":"Situs Resmi","description":"Komunitas Turah Budaya","publisher":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/turahbudaya.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#organization","name":"Situs Resmi","url":"https:\/\/turahbudaya.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/cropped-LOGO-RESMI-TURAH-BUDYA-2025-scaled-1.png","contentUrl":"https:\/\/turahbudaya.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/cropped-LOGO-RESMI-TURAH-BUDYA-2025-scaled-1.png","width":2560,"height":1491,"caption":"Situs Resmi"},"image":{"@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/turahbudaya.id\/#\/schema\/person\/1d8e6d5666d68547c528ebfe60f30321","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c40cf0cc8dbce02bcb772b8b86cd7e2fcd7555661dd58f502ef3cf7511eab2fc?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["http:\/\/turahbudaya.id"],"url":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/author\/tursejarah-anaknegeri\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=607"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/607\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":618,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/607\/revisions\/618"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/turahbudaya.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}